Jakarta, 27 Mei 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa stok uranium diperkaya milik Iran harus diserahkan kepada Amerika Serikat atau dihancurkan sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik dan negosiasi nuklir yang tengah berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya pembahasan mengenai kesepakatan damai dan pengawasan program nuklir Iran. Trump menyebut uranium yang diperkaya tinggi tidak boleh tetap berada di tangan Iran karena dikhawatirkan dapat digunakan untuk pengembangan senjata nuklir. Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran mempertahankan material yang dianggap berisiko terhadap keamanan internasional.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan uranium diperkaya milik Iran dapat dihancurkan secara langsung di lokasi penyimpanan atau dipindahkan terlebih dahulu ke Amerika Serikat untuk dimusnahkan. Ia menyebut proses tersebut idealnya dilakukan dengan pengawasan lembaga energi atom internasional agar berjalan transparan dan dapat dipantau dunia internasional. Pernyataan itu muncul saat perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran disebut semakin mendekati kesepahaman, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengawasan program nuklir Iran. Meski begitu, pemerintah Iran belum sepenuhnya menyatakan setuju terhadap opsi penyerahan uranium ke AS.
Isu uranium diperkaya memang menjadi salah satu poin paling sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran selama bertahun-tahun. Menurut berbagai laporan internasional, Iran diketahui memiliki ratusan kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen, mendekati level yang dapat digunakan untuk senjata nuklir apabila diproses lebih lanjut. Amerika Serikat dan sekutunya menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan energi, bukan pengembangan senjata.
Pengamat hubungan internasional menilai pernyataan Trump menunjukkan bahwa isu nuklir masih menjadi pusat utama negosiasi antara kedua negara. Selain faktor keamanan, keberadaan uranium diperkaya juga berkaitan erat dengan sanksi ekonomi, jalur perdagangan energi, dan stabilitas geopolitik kawasan. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia turut menjadi bagian penting dalam pembahasan damai karena konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi global. Banyak pihak kini menunggu apakah Iran bersedia menerima mekanisme pengawasan internasional yang lebih ketat sebagai bagian dari kesepakatan baru.
Meski sejumlah laporan menyebut peluang tercapainya kesepakatan semakin besar, proses negosiasi masih menghadapi banyak tantangan dan perbedaan kepentingan. Pemerintah Iran sejauh ini masih berhati-hati agar kesepakatan yang dicapai tidak dianggap sebagai bentuk menyerah terhadap tekanan Barat. Di sisi lain, Amerika Serikat menegaskan bahwa pencabutan sanksi dan normalisasi hubungan hanya akan dilakukan jika isu uranium diperkaya benar-benar diselesaikan. Situasi tersebut membuat perkembangan negosiasi AS-Iran terus menjadi perhatian dunia internasional karena dampaknya sangat besar terhadap keamanan global dan pasar energi dunia.





