Jakarta, 13 Agustus 2026 – Wakil Ketua MPR mendorong pengembangan energi baru terbarukan atau EBT agar tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perkembangan industri dan penciptaan lapangan kerja. Pengembangan EBT dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari strategi transformasi ekonomi Indonesia di tengah kebutuhan mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil. Investasi pada sektor energi bersih diharapkan dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru mulai dari pembangunan pembangkit, pengembangan teknologi, hingga penguatan industri pendukung. Pada saat yang sama, pertumbuhan sektor tersebut dapat membuka kebutuhan tenaga kerja dengan berbagai tingkat keterampilan. Karena itu, kebijakan EBT perlu dirancang agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Menurut Waka MPR, pengembangan energi bersih tidak seharusnya dipandang hanya sebagai agenda lingkungan. Transisi energi memiliki hubungan erat dengan daya saing industri karena ketersediaan energi yang andal, kompetitif, dan semakin rendah emisi menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menentukan lokasi produksi. Industri yang berorientasi ekspor juga menghadapi tuntutan pasar global untuk menekan jejak karbon dalam proses produksinya. Kondisi tersebut membuat penyediaan energi bersih semakin relevan bagi industri nasional yang ingin mempertahankan daya saing. Indonesia memiliki peluang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam seperti energi surya, angin, panas bumi, air, dan bioenergi untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Pengembangan EBT juga berpotensi mendorong lahirnya industri baru di dalam negeri. Pembangunan pembangkit energi terbarukan membutuhkan berbagai komponen, teknologi, jasa konstruksi, sistem pengelolaan, serta kemampuan pemeliharaan. Apabila rantai pasoknya dapat diperkuat di dalam negeri, investasi energi bersih tidak hanya menghasilkan kapasitas pembangkit, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi industri nasional. Pemerintah dapat mendorong keterlibatan perusahaan lokal melalui penguatan kemampuan manufaktur dan pengembangan teknologi. Langkah tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi energi bersih dari luar negeri.
Dari sisi ketenagakerjaan, transisi energi dapat menciptakan jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keahlian berbeda. Teknisi pembangkit, ahli kelistrikan, insinyur, tenaga konstruksi, analis data energi, hingga pekerja yang memiliki kemampuan mengoperasikan sistem digital akan semakin dibutuhkan. Pendidikan vokasi dan pelatihan tenaga kerja perlu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri tersebut. Dengan persiapan yang baik, perubahan menuju energi bersih dapat menjadi peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat di sekitar lokasi proyek juga perlu memperoleh kesempatan untuk ikut menikmati manfaat ekonomi dari pembangunan energi.
Pengembangan EBT di berbagai daerah juga dapat menjadi instrumen pemerataan pembangunan. Banyak sumber energi terbarukan berada di luar pusat-pusat industri utama sehingga pembangunan proyek dapat membawa investasi ke wilayah yang selama ini memiliki aktivitas ekonomi lebih terbatas. Infrastruktur pendukung yang dibangun untuk proyek energi juga berpotensi meningkatkan konektivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar. Namun, proyek harus direncanakan dengan memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan setempat. Pelibatan masyarakat sejak tahap awal diperlukan agar pembangunan memperoleh dukungan dan tidak menimbulkan konflik baru.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah biaya investasi dan kesiapan infrastruktur kelistrikan. Sejumlah sumber EBT memiliki karakter produksi yang bergantung pada kondisi alam sehingga membutuhkan sistem jaringan dan penyimpanan energi yang semakin fleksibel. Penguatan jaringan transmisi dan distribusi menjadi penting agar listrik yang dihasilkan dapat disalurkan ke pusat konsumsi. Pemerintah juga perlu menciptakan kepastian regulasi agar investor memiliki gambaran yang jelas mengenai proyek energi dalam jangka panjang. Kebijakan yang konsisten akan membantu menurunkan ketidakpastian sekaligus meningkatkan minat investasi.
Manfaat EBT bagi industri juga akan semakin besar apabila pengembangannya dikaitkan dengan strategi hilirisasi dan industrialisasi nasional. Kawasan industri yang memperoleh pasokan energi bersih dapat menjadi lebih menarik bagi perusahaan yang memiliki target pengurangan emisi. Kondisi tersebut membuka peluang Indonesia menarik investasi pada industri dengan teknologi yang lebih maju sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global. Pengembangan energi bersih juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kendaraan listrik, industri baterai, pusat data, serta berbagai sektor yang membutuhkan pasokan listrik besar. Sinergi antarsektor diperlukan agar pembangunan EBT menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Dorongan Waka MPR tersebut menunjukkan bahwa pengembangan energi baru terbarukan perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda ekonomi nasional, bukan semata-mata kebijakan pengurangan emisi. EBT memiliki peluang menjadi sumber pertumbuhan baru apabila pengembangannya mampu memperkuat industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mendorong investasi di daerah. Pemerintah perlu memastikan kebijakan energi, industri, pendidikan, dan ketenagakerjaan berjalan dalam arah yang saling mendukung. Dengan perencanaan yang matang, transisi menuju energi bersih dapat menjadi momentum untuk membangun ekonomi yang lebih kompetitif sekaligus menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat.





