Jakarta, 8 September 2026 – Kosovo resmi menandatangani perjanjian untuk bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) atau Pasukan Stabilisasi Internasional yang direncanakan bertugas di Jalur Gaza. Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam sebuah upacara di Pristina pada Senin, 7 September 2026, dengan melibatkan perwakilan Kosovo, Board of Peace yang didukung Amerika Serikat, serta pimpinan ISF. Penandatanganan menjadi langkah formal yang mengukuhkan keterlibatan Kosovo dalam misi internasional untuk mendukung keamanan dan stabilitas di Gaza. Kosovo sebelumnya telah menyatakan kesiapan mengirim personel keamanan sebagai bagian dari pasukan multinasional tersebut. Namun, hingga kini belum terdapat jadwal resmi mengenai kapan seluruh pasukan yang telah berkomitmen akan mulai ditempatkan secara penuh di wilayah Palestina tersebut.
Perjanjian partisipasi ditandatangani oleh Komandan Kosovo Security Force (KSF) Letnan Jenderal Bashkim Jashari bersama Komandan ISF Gaza Mayor Jenderal Jasper Jeffers. Menteri Pertahanan Kosovo Ejup Maqedonci serta perwakilan Board of Peace juga hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Kesepakatan mengatur aspek keterlibatan kontingen Kosovo dalam misi yang dirancang untuk mendukung proses stabilisasi Gaza. Jeffers menyambut keputusan dan kesiapan Kosovo untuk berkontribusi dalam operasi internasional tersebut serta menilai keterlibatan KSF dapat mendukung upaya menjaga perdamaian, keamanan, dan stabilitas. Jashari pada sisi lain menegaskan partisipasi dalam operasi keamanan internasional merupakan bagian dari upaya Kosovo meningkatkan kontribusinya terhadap perdamaian dunia.
Keputusan bergabung dengan ISF sebenarnya telah dipersiapkan Kosovo sejak beberapa bulan sebelumnya. Pemerintah Kosovo pada akhir Maret 2026 mendukung proposal Kementerian Pertahanan untuk memperoleh persetujuan parlemen terkait pengerahan personel KSF ke Gaza. Parlemen kemudian menyetujui pengerahan tersebut pada 17 April, disusul otorisasi pada 20 April untuk keterlibatan Kosovo dalam operasi perdamaian internasional. Sebuah tim KSF juga telah dikirim untuk melakukan penilaian awal terhadap wilayah tempat kontingen Kosovo diperkirakan akan beroperasi. Tahapan tersebut mencakup evaluasi kondisi lapangan serta koordinasi yang dibutuhkan sebelum pengerahan pasukan dalam skala lebih besar dapat dilaksanakan.
Kosovo menjadi salah satu dari sejumlah negara yang menyatakan kesiapan mengirim personel untuk bergabung dengan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza. Negara-negara lain yang telah berkomitmen antara lain Indonesia, Albania, Maroko, dan Kazakhstan, sementara Mesir dan Yordania mengambil peran dalam pelatihan personel kepolisian. Keterlibatan sejumlah negara menunjukkan pembentukan ISF diarahkan sebagai operasi multinasional yang membutuhkan koordinasi dalam aspek keamanan, logistik, hingga pembangunan kembali Gaza. Bagi Kosovo, keputusan tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi meningkatkan peran negara itu dalam operasi keamanan internasional. Pemerintah Kosovo ingin bergerak dari negara yang selama bertahun-tahun menerima dukungan keamanan internasional menjadi pihak yang turut memberikan kontribusi terhadap operasi perdamaian di negara lain.
Pembentukan ISF merupakan bagian dari kerangka rencana perdamaian Gaza yang didorong pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kerangka tersebut mencakup sejumlah tahapan, antara lain pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel secara bertahap, pengalihan administrasi kepada komite teknokrat Palestina, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta pelaksanaan rekonstruksi. ISF dirancang untuk membantu mengamankan wilayah setelah penarikan pasukan Israel sekaligus mendukung pembentukan dan pelatihan struktur keamanan Palestina. Pasukan internasional juga diproyeksikan membantu menciptakan kondisi keamanan yang memungkinkan bantuan kemanusiaan dan kegiatan rekonstruksi berlangsung. Namun, pelaksanaan seluruh tahapan tersebut tetap sangat bergantung pada perkembangan politik dan keamanan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Misi stabilisasi menghadapi tantangan besar karena situasi di Gaza masih kompleks setelah konflik berkepanjangan menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan menyebabkan krisis kemanusiaan. Penempatan pasukan internasional membutuhkan kejelasan mengenai mandat, wilayah operasi, aturan keterlibatan, mekanisme koordinasi, serta hubungan dengan struktur keamanan Palestina. Selain itu, keselamatan personel yang nantinya ditempatkan di lapangan menjadi pertimbangan penting mengingat potensi kekerasan belum sepenuhnya dapat dihilangkan. Setiap negara peserta juga perlu memastikan kontingennya memiliki kesiapan operasional dan logistik sebelum pengerahan dilakukan. Kondisi tersebut membuat penandatanganan perjanjian partisipasi belum berarti pasukan dapat langsung ditempatkan dalam waktu dekat.
Kosovo menilai keterlibatan dalam ISF dapat memperkuat posisinya sebagai kontributor keamanan bersama negara-negara mitra. KSF menyatakan memiliki tujuan strategis untuk secara bertahap meningkatkan kontribusi dalam berbagai operasi keamanan internasional. Transformasi tersebut dianggap penting bagi Kosovo yang memiliki sejarah panjang keterlibatan komunitas internasional dalam menjaga stabilitas di kawasan Balkan. Pengalaman bekerja bersama mitra internasional kemudian menjadi salah satu modal yang ingin digunakan dalam misi di Gaza. Kerja sama dengan Amerika Serikat dan negara peserta lainnya juga diperkirakan menjadi bagian penting dalam persiapan sebelum kontingen menjalankan tugas operasional.
Pada sisi lain, keberhasilan misi ISF tidak hanya ditentukan oleh jumlah negara yang bersedia mengirimkan personel. Stabilitas jangka panjang di Gaza membutuhkan kemajuan politik, keamanan, pemerintahan, bantuan kemanusiaan, serta pembangunan kembali infrastruktur yang berjalan secara bersamaan. Pasukan internasional dapat membantu menciptakan lingkungan keamanan, tetapi penyelesaian konflik tetap membutuhkan kesepakatan dan implementasi komitmen dari pihak-pihak yang berhadapan. Proses pelucutan senjata, penarikan pasukan, pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina, hingga rekonstruksi merupakan tahapan yang saling bergantung. Hambatan pada salah satu bagian dapat memengaruhi pelaksanaan keseluruhan rencana stabilisasi.
Penandatanganan perjanjian oleh Kosovo memperluas daftar negara yang secara formal siap mendukung Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza. Langkah berikutnya akan berfokus pada penyelesaian aspek teknis, koordinasi antarkontingen, kesiapan personel, serta penentuan waktu pengerahan berdasarkan perkembangan di lapangan. Hingga saat ini belum ada jadwal resmi untuk penempatan penuh pasukan internasional tersebut, sehingga pelaksanaan misi masih bergantung pada kemajuan rencana perdamaian secara keseluruhan. Kosovo menegaskan keterlibatannya sebagai bagian dari komitmen memberikan kontribusi konkret terhadap keamanan internasional bersama negara-negara mitra. Jika seluruh tahapan dapat dilaksanakan, ISF akan menghadapi tugas besar untuk membantu menjaga stabilitas sekaligus menciptakan kondisi yang memungkinkan pemulihan dan rekonstruksi Gaza berlangsung secara berkelanjutan.





