Jakarta, 3 September 2026 – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Danone memperkuat upaya pemulihan anak-anak yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama dalam aspek pemenuhan gizi dan penanganan trauma. Anak menjadi salah satu kelompok paling rentan dalam situasi bencana karena perubahan lingkungan, kehilangan tempat tinggal, keterbatasan makanan bergizi, serta tekanan psikologis dapat memengaruhi proses tumbuh kembang mereka. Penanganan pascabencana karena itu tidak cukup hanya memastikan kebutuhan darurat seperti tempat tinggal dan makanan tersedia. Kondisi emosional anak juga membutuhkan perhatian agar pengalaman gempa tidak berkembang menjadi gangguan berkepanjangan. Kolaborasi pemerintah dan sektor swasta diarahkan untuk memastikan layanan tersebut dapat menjangkau keluarga terdampak secara lebih luas. Pendekatan terpadu diharapkan membantu anak kembali menjalani kehidupan sehari-hari secara bertahap.
Pemenuhan gizi menjadi salah satu prioritas karena kondisi pengungsian dapat mengubah pola makan anak secara drastis. Keluarga yang sebelumnya memiliki akses rutin terhadap berbagai bahan pangan dapat bergantung pada bantuan selama masa tanggap darurat. Situasi tersebut membuat komposisi makanan yang diterima perlu diperhatikan agar kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral tetap terpenuhi. Anak-anak membutuhkan asupan sesuai kelompok usia karena mereka masih berada dalam fase pertumbuhan. Kekurangan zat gizi dalam periode tertentu dapat memengaruhi daya tahan tubuh dan membuat anak lebih rentan terhadap penyakit. Karena itu, bantuan pangan perlu mempertimbangkan kualitas nutrisi selain memastikan jumlah makanan tersedia secara mencukupi.
Kondisi sanitasi dan ketersediaan air bersih juga berkaitan erat dengan keberhasilan pemulihan gizi. Anak yang mengalami diare atau penyakit infeksi dapat kehilangan zat gizi meskipun makanan telah tersedia. Risiko tersebut dapat meningkat di lokasi pengungsian apabila jumlah fasilitas sanitasi tidak sebanding dengan banyaknya warga yang menggunakannya. Penyediaan air bersih, kebiasaan mencuci tangan, pengelolaan sampah, serta kebersihan tempat penyimpanan makanan menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan. Pendampingan kepada keluarga dibutuhkan agar praktik kebersihan tetap dapat diterapkan meskipun mereka tinggal dalam kondisi sementara. Dengan demikian, program pemulihan gizi harus berjalan beriringan dengan pencegahan penyakit.
Selain kebutuhan fisik, Kemen PPPA memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak setelah mengalami gempa. Guncangan kuat, kerusakan rumah, kepanikan orang dewasa, hingga kemungkinan harus meninggalkan lingkungan tempat tinggal dapat menjadi pengalaman menakutkan. Sebagian anak mungkin menunjukkan rasa takut ketika merasakan getaran, mendengar suara keras, atau harus tidur jauh dari rumah. Anak lainnya dapat menjadi lebih pendiam, sulit tidur, mudah menangis, atau terus ingin berada dekat dengan orang tua. Respons semacam itu dapat muncul setelah peristiwa traumatis dan membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan usia anak. Lingkungan yang aman dan dukungan dari orang dewasa menjadi faktor penting untuk membantu mereka kembali merasa nyaman.
Pemulihan trauma pada anak dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan yang memberikan ruang untuk bermain, belajar, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Aktivitas tersebut membantu mengembalikan rutinitas yang sempat terputus akibat bencana. Ruang ramah anak dapat digunakan untuk memberikan kegiatan edukatif sekaligus membantu petugas mengidentifikasi anak yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Permainan, menggambar, membaca, bernyanyi, dan aktivitas kelompok dapat membantu anak mengekspresikan perasaan tanpa harus selalu menjelaskannya melalui percakapan formal. Pendekatan tersebut penting karena kemampuan anak memahami dan menyampaikan emosi berbeda berdasarkan usia. Jika ditemukan gejala yang menetap atau semakin berat, pendampingan profesional dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Orang tua dan pengasuh memiliki posisi penting dalam proses pemulihan psikologis. Anak sering kali melihat respons orang dewasa di sekitarnya untuk menentukan bagaimana mereka memahami situasi setelah bencana. Karena itu, orang tua membutuhkan informasi mengenai cara menjelaskan gempa dengan bahasa sederhana tanpa menambah rasa takut. Mereka juga perlu mengenali perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda bahwa anak membutuhkan dukungan tambahan. Pada saat bersamaan, kondisi psikologis orang tua sendiri tidak boleh diabaikan karena mereka juga dapat mengalami kehilangan, tekanan ekonomi, maupun kecemasan mengenai masa depan keluarga. Dukungan terhadap keluarga secara keseluruhan dapat menciptakan lingkungan pemulihan yang lebih baik bagi anak.
Kolaborasi dengan Danone diarahkan untuk memperkuat dukungan terhadap kebutuhan dasar keluarga terdampak, termasuk aspek nutrisi dan kesehatan. Keterlibatan dunia usaha dalam penanganan bencana dapat membantu memperluas sumber daya yang tersedia bagi pemerintah dan masyarakat. Namun, bantuan tetap perlu disesuaikan dengan hasil asesmen sehingga barang maupun layanan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Koordinasi menjadi penting untuk menghindari penumpukan bantuan pada satu lokasi sementara wilayah lainnya masih mengalami kekurangan. Distribusi juga perlu mempertimbangkan kelompok rentan, termasuk bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, penyandang disabilitas, dan lanjut usia. Dengan pemetaan kebutuhan yang baik, dukungan dapat diberikan secara lebih tepat sasaran.
Pemulihan anak setelah bencana juga berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan. Kerusakan sekolah atau perpindahan keluarga ke tempat pengungsian dapat membuat kegiatan belajar terganggu untuk sementara waktu. Mengembalikan aktivitas pendidikan secepat mungkin memiliki manfaat lebih dari sekadar mengejar pelajaran yang tertinggal. Sekolah dan kegiatan belajar memberikan rutinitas yang membantu anak merasakan bahwa kehidupan perlahan kembali normal. Guru juga dapat berperan mengamati perubahan perilaku siswa dan berkoordinasi dengan keluarga apabila ditemukan kebutuhan khusus. Fasilitas pendidikan sementara dapat digunakan apabila bangunan sekolah belum aman untuk ditempati. Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum aktivitas tatap muka dilanjutkan.
Perlindungan anak di lokasi pengungsian turut menjadi perhatian karena situasi bencana dapat meningkatkan berbagai risiko sosial. Kepadatan tempat tinggal sementara dan berkurangnya ruang privat membutuhkan sistem pengawasan yang baik. Data anak yang terpisah dari keluarga perlu segera dicatat agar proses penyatuan kembali dapat dilakukan dengan cepat. Mekanisme pelaporan juga harus tersedia apabila ditemukan dugaan kekerasan, eksploitasi, atau bentuk pelanggaran terhadap hak anak. Petugas dan relawan yang berinteraksi dengan anak perlu memahami prinsip perlindungan sehingga bantuan tidak menimbulkan risiko baru. Pemulihan pascabencana harus memastikan anak tetap mendapatkan rasa aman secara fisik maupun psikologis.
Penguatan pemulihan gizi dan trauma oleh Kemen PPPA bersama Danone pada akhirnya menjadi bagian dari pendekatan jangka panjang untuk memastikan anak-anak terdampak gempa NTT dapat kembali tumbuh dalam kondisi yang sehat dan aman. Kebutuhan mereka tidak berhenti ketika bantuan darurat telah didistribusikan atau tempat pengungsian mulai berkurang. Pemantauan status gizi, kesehatan, kondisi psikologis, pendidikan, serta lingkungan keluarga tetap diperlukan selama masa pemulihan. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, tenaga kesehatan, pendidik, relawan, dan masyarakat menjadi penting agar tidak ada anak yang tertinggal dalam proses tersebut. Dengan dukungan yang konsisten, dampak bencana terhadap tumbuh kembang anak dapat ditekan sekaligus membantu keluarga membangun kembali kehidupan mereka.





